Kamis, 12 Maret 2009

lelah

Pada saat bumi tercipta dalam rahmat-Nya, aku terbiasa menunggu hal yang membuat hati dan pikiranku senang,,,, rasa senang akan berhasilnya nafsu duniaku terpenuhi…

Coba katakan pada diri sendiri bahwa diri ini tlah lelah menunggu… aku harus berjuang bersama teman-teman yang setia terhadap dien-Nya……….

Dengan perasaan yang membuat mati hati dan pikiran busuk, tercium bau busuk hingga ke negeri sebrang, andai semua tlah pergi dan tinggal diri ini yang lelah dalam kebusukan, katakan pada diri ini wahai diri yang tersenyum saat sahabat berhasil menempuh hidup yang bahagia.

Anjing maut yang berlari menuju kekafiran insan yang telah lelah menunggu..

“Perjuangan ini belum berakhir, namun perjuangan ini baru aku mulai”

yang terdalam adalah peristiwa yang tak bisa di ulang kembali, yang bisa terpancar setelah bumi berpijak dalam kedalaman semesta….

Anturan yang terpaut oleh masa lama, cukup terasa berat dalam berjalan dan berlari….. hidup yang sulit dan mencekam, tak sedamai hati yang berlabuh, dan terdengar hantu yang tertawa saat ku kenang semua yang tlah berlalu….

Jika yang tercipta adalah bumi yang hidup kembali setelah matinya, saat-saat hati mencari setitik rahmatNya dalam kasih dan pelukan terhangat.

Wahai diri yang tlah lama terjebak dalam mati, yang tlah lama terpanggil oleh Ilahi tak bisakah kau kembali mengukir semua itu dengan baik,dengan segala yang kau punya………………………………!

Pada suatu hari, tepatnya hari minggu 09 februari 2009. pagi yang indah namun

Vatikan: Barat Harus Melihat Sistem Keuangan Islam

Vatikan mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan. Vatikan bilang, perbankan dunia seharusnya melongok pada peraturan keuangan Islam untuk meningkatkan kembali kepercayaan para nasabahnya di tengah krisis global seperti sekarang ini.

“Prinsip yang beretika yang diusung perbankan Islam dapat mendekatkan pihak bank dengan para nasabahnya. Selain itu, spirit kejujuran harus tecermin dalam setiap jasa layanan yang diberikan,” demikian seperti yang tertulis dalam artikel harian Vatikan Osservatore Romano, beberapa waktu yang lalu.

Loretta Napoleoni dan Claudia Segre, Abaxbank Spa Fixed Income Strategist, dalam artikel tersebut menulis, perbankan barat dapat menggunakan sejumlah alat, seperti obligasi syariah yang lebih dikenal dengan sukuk sebagai jaminan (collateral). “Sukuk juga dapat digunakan untuk mendanai industri otomotif atau pekan Olimpiade di London nanti,” tulis mereka.

Sebelumnya, pada 7 Oktober lalu, Paus Benedict XVI berpidato, konklusi dari hancurnya pasar finansial saat ini akibat dampak buruk kondisi perekonomian global dalam dua dekade terakhir ini.

Sementara itu, Editor Osservatore Giovanni Maria Vian mengatakan, “Agama yang hebat selalu memiliki atensi yang penuh terhadap dimensi perekonomian masyarakatnya.” (mj/www.suara-islam.com)

Buku Amrozi Akan Diselidiki Jaksa Intelegen

Buku Amrozi Akan Diselidiki Jaksa Intelegen PDF Cetak E-mail
Friday, 13 March 2009

ImageBuku berjudul 'Goresan Pena Trio Mujahid' karya tiga terpidana mati bom Bali, Amrozi, Imam Samudra, dan Ali Ghufron alias Mukhlas beredar. Ditanya soal buku itu, Jaksa Agung, Hendarman Supanji mengaku belum tahu.


"Saya belum lihat, akan saya cek kalau sudah sampai kejaksaan," kata Hendarman di Gedung Kejaksaan Agung, Jalan Hasanuddin, Jakarta, Jumat 13 Maret 2009. Hendarman menegaskan, terhadap buku tersebut kejaksaan tak tinggal diam.

"Itu harus dibahas dalam satu forum. Nanti, jaksa agung muda Intelijen akan membuat suatu forum," kata Hendarman. Dia melanjutkan, tim dari Sub Direktorat Mass Media yang ada di bawah JAM Intelijen akan meneliti buku tersebut. "Di sanalah digodoknya," kata Hendarman.

Trilogi "Goresan Pena Trio Mujahid" terbitan Arrahmah Media diiklankan di laman arrahmah dengan harga Rp 75 ribu untuk tiga buku.

Masing-masing trio bom Bali menulis satu buku. Buku Imam Samudra bersampul merah berjudul 'Sekuntum Rosela Pelipur Lara', buku Amrozi bersampul hijau dengan judul 'Senyum Terakhir Seorang Mujahid', dan buku Mukhlas berjudul 'Mimpi Suci Dibalik Jeruji'.

Beredarnya buku tersebut belum ramai dibahas di Indonesia, namun jadi perbincangan di luar negeri, terutama Australia-yang 88 warganya menjadi korban tragedi Bom Bali.

Amrozi Cs dieksekusi mati pada Minggu, 9 November 2008, pukul 00.15 WIB. Mereka dieksekusi di Nusakambangan.

Ketiga terpidana divonis mati setelah dinyatakan bersalah merencanakan dan melakukan aksi teror meledakkan dua bom di kawasan Legian, Kuta, Bali, pada 12 Oktober 2002. Bom pertama meledak di Paddy’s Irish Bar sedangkan bom kedua meletup di dekat Sari Club. Akibatnya, 202 orang tak berdosa tewas dan 305 lainnya luka-luka, termasuk sejumlah warga Indonesia dan umat Muslim. Bom ketiga meledak di dekat kantor Konsulat Amerika Serikat di Denpasar, untungnya tak ada jiwa melayang di sana. (mj/www.suara-islam.com)

Minggu, 08 Februari 2009

Din Syamsuddin : AS Harus Tinggalkan Paradigma Lama




Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Din Syamsuddin menjadi salah seorang tamu internasional yang hadir pada International Prayer Breakfast bersama Presiden Obama dan Wakil Presiden Biden di Washington, DC 5 Februari pagi. Acara tahunan rutin ini dihadiri 1000-an tokoh AS dari berbagai kalangan dan sejumlah tokoh dunia, baik pemerintahan, agama, politisi dan cendekiawan. Dari Indonesia selain Din Syamsuddin hadir juga Wapres Jusuf Kalla.

Pada acara tersebut, sambil makan pagi bersama dan berdoa bagi perdamaian dunia, juga diisi sambutan oleh mantan PM Inggris Tony Blair dan Presiden Obama sendiri. Keduanya menekankan pentingnya upaya bersama mewujudkan perdamaian dunia dan pentingnya peran agama-agama. Baik Obama maupun Blair mengutip ayat-ayat
Taurat, Injil dan al-Qur'an tentang kasih sayang.

Walaupun tidak ada tanya jawab, namun kedua sambutan tadi cukup mengisyaratkan visi baru kepemimpinan dunia bagi adanya tata kehidupan dunia baru yang damai, sejahtera, berkeadilan dan berkeadaban. Din Syamsuddin menilai pernyataan Presiden Obamacukup menggembirakan.

“Walau kita skeptis terhadap realisasi janji semacam itu, tapi dengan diucapkan berkali-kali kita boleh sedikit. optimis bahwa dia berbeda dengan pendahulunya, Bush," ujar Din.

Din berharap AS mengubah pendekatannya terhadap dunia luar yaitu dengan meninggalkan standar ganda dan penggunaan hard power dalam menyelesaikan masalah dunia Menurutnya, inilah momentum bagi AS untuk mengubah diri dalam memandang dunia lain. "Kalau AS masih menggunakan paradigma lama, ia akan diabaikan oleh negara-negara lain, tapi kalau berubah maka AS akan dapat menjadi motor perubahan dunia," tandasnya.

Din Syamsuddin yang sebelumnya berpidato di World Summit on Peace di NY, mengajak Dunia Islam untuk memberi kesempatan kepada Obama untuk merealisasikan janji-janjinya, sambil melihat apakah dia jujur pada dirinya sendiri. (novel/ds) www.eramuslim.com

Pengaku Nabi Baru di Aljazair Difatwa Mati

Hidayatullah.com--Seorang ulama Aljazair, Syaikh Abu Bakar Suhayl, merilis fatwa yang menyatakan "halal darahnya" atas seorang yang mengaku sebagai Nabi Baru yang mendapatkan wahyu suci dari Allah sekaligus diperintahkan untuk menyebarkan agama baru tersebut.

Harian al-Afaq (7/2) mengabarkan, sejak dua minggu kemarin, seorang lelaki berusia 50 tahunan yang berasal dari Mantiqah Muhammadiyyah di Barat Aljazair mengaku sebagai Nabi Baru. Ia juga mendapatkan wahyu langsung dari Allah dan diperintahkan untuk menyebarkan syari'at baru.

Sang Nabi baru tersebut menyatakan jika Shalat Jum'at, Shalat Isya', Shalat Fajar, dan dua Shalat Id adalah makruh hukumnya, dan bukan wajib. Ia juga menyatakan jika Puasa Ramadhan kini diwajibkan setiap bulan Desember, dan tidak lagi menjadi kewajiban, melainkan pilihan: jika ingin berpuasa, puasalah, jika tidak, makanlah.

Selain itu, sang Nabi baru tersebut juga menyesatkan kalangan Ahlussunnah. Menurutnya, madzhab Ahlussunnah adalah madzhab Bid'ah dan merusak umat. Ia menyerukan kepada para ulama untuk meninggalkan madzhab tersebut.

"Ahlussunnah telah mengakibatkan umat Muslim terjerat dalam serentetan masalah yang akut," ungkapnya.

Umat Muslim yang tinggal bilangan al-Manthiqah al-Muhammadiyyah telah melayangkan surat pengaduan kepada Badan Wakaf dan keagamaan Aljazair. Mereka meminta pemerintah untuk menindak tegas keberadaan "Nabi Baru" yang meresahkan umat ini. [atj/afq/www.hidayatullah.com]

ANTARA AKU

Pada saat bumi tercipta dalam rahmat-Nya, aku terbiasa menunggu hal yang membuat hati dan pikiranku senang,,,, rasa senang akan berhasilnya nafsu duniaku terpenuhi…

Coba katakan pada diri sendiri bahwa diri ini tlah lelah menunggu… aku harus berjuang bersama teman-teman yang setia terhadap dien-Nya……….

Dengan perasaan yang membuat mati hati dan pikiran busuk, tercium bau busuk hingga ke negeri sebrang, andai semua tlah pergi dan tinggal diri ini yang lelah dalam kebusukan, katakan pada diri ini wahai diri yang tersenyum saat sahabat berhasil menempuh hidup yang bahagia.

Anjing maut yang berlari menuju kekafiran insan yang telah lelah menunggu..

“Perjuangan ini belum berakhir, namun perjuangan ini baru aku mulai”

Sabtu, 07 Februari 2009

Perempuan Berkalung Surban' Menyesatkan



'Perempuan Berkalung Surban' Menyesatkan
Mereka yang terlibat dalam film itu sangat terlihat sekali ketidakpahaman mereka terhadap sejarah, tradisi, karakteristik dan jiwa pesantren., Film ''Perempuan Berkalung Surban'' telah menyesatkan.Mereka menggambarkan persepsi yang salah, padahal keadaan yang sebenarnya tidak seperti itu
Film ''Perempuan Berkalung Sorban'' besutan Sutradara Hanung Bramantyo yang sedang diputar di bioskop dinilai banyak mengandung muatan agama yang menyesatkan. Film yang diadopsi dari novel karya Abidah Al Khalieqy itu juga dianggap telah melecehkan Alquran dan Hadits, serta telah menjelek-jelekan pesantren.
Salah satu pesan yang dianggap menyesatkan dalam film itu adalah dialog antara Kiai Hanan, ayah Anissa (Joshua Pandelaky) dengan Annisa (Revalina S Temat). Dalam dialog itu, Kiai Hanan berkata, "Jelas Alquran dan Hadits mengharamkan perempuan keluar rumah sendiri tanpa muhrim, meski untuk belajar."
''Yang membuat saya kaget, dialog itu dihadirkan secara berulang dengan adegan yang berbeda,'' cetus staf pengajar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Fitriyani Aminudin kepada Republika, Ahad (1/2). Padahal, kata Fitriyani, tak ada satupun ayat dalam Alquran dan Hadits yang melarang perempuan untuk keluar rumah.
Ia menegaskan, penggunaan kata ''berdasarkan Alquran dan Hadits'' dalam film itu sebagai bentuk pelecehan kitab suci yang amat menyakitkan. Reaksi keras terhadap Film ''Perempuan Berkalung Sorban'' juga dilontarkan Imam Besar Masjid Istiqlal, KH Ali Mustafa Yakub. Pakar ilmu Hadits itu menyatakan, tak ada satu pun ayat dalam Alquran dan Hadits yang mengharamkan perempuan untuk keluar rumah.
"Yang ada justru hadits yang sebaliknya,'' tegas Kiai Ali Mustafa. ''Janganlah kamu melarang perempuan-perempuanmu untuk ke masjid (menimba ilmu),'' ucapnya mengutip sebuah hadits. Anggota Komisi Fatwa MUI itu menilai, Film ''Perempuan Berkalung Surban'' telah menyesatkan. "Mereka menggambarkan persepsi yang salah, padahal keadaan yang sebenarnya tidak seperti itu. Itu sangat tidak benar. Menurut saya film itu menyesatkan."
Kiai Ali juga menyoroti adegan Anissa menunggang kuda. ''Dalam film itu digambarkan bahwa perempuan dilarang menunggang kuda. Padahal pada zaman Nabi banyak perempuan yang sudah menunggang kuda,'' tuturnya. Menurut dia, film tersebut telah menyampaikan ajaran agama yang salah. ''Sebaiknya tidak usah ditonton."
Selain itu, Fitriyani juga memaparkan banyaknya adegan yang ganjil dalam film itu. Ia mengkritisi sejumlah dialog dan gambar yang mencoba membandingkan Alquran serta Hadits dengan buku Bumi Manusia karya Pramudya Ananta Tur. "Siapapun yang menontonnya, dalam film ini terdapat kesan kuat yang menggambarkan kebodohan kaum santri mengharamkan buku-buku Komunis,'' cetus Fitriyani.
Fitriyani menilai film itu mengedepankan pesan utama kebebasan yang mencoba membandingkannya dengan pesantren. "Ada sebuah kesalahan fatal, karena mereka (pembuat film) tak mendalami lebih dahulu karakter dan tradisi pendidikan pesantren,'' tegasnya. Ia menilai mereka yang terlibat dalam film itu sangat terlihat sekali ketidakpahaman mereka terhadap sejarah, tradisi, karakteristik dan jiwa pesantren.
''Ini merupakan pelecehan dan penghinaan terhadap pesantren," kata wanita yang juga pernah mondok di salah satu pesantren Jawa Timur itu. Menanggapi reaksi keras dari kalangan umat Islam itu, Sutradara Film ''Perempuan Berkalung Sorban'', Hanung Bramantyo membantah adanya dialog haramnya perempuan keluar rumah yang didasarkan pada Alquran dan Hadits. "Tak ada dialog seperti itu, itu hanya pendapat sang Kiai yang notabene pemilik pesantren bukan berdasarkan Alquran dan Hadits,'' kilahnya.
Hanung menambahkan, ia mengadopsi keadaan pesantren dan kegiatannya dari novel karya Abidah Al Khalieqy yang merupakan hasil pengamatan Abidah.