Minggu, 21 Desember 2008

Bantuan Negara Arab Masuk Jalur Gaza

Hidayatullah.com--Kapal dari Qatar yang mengangkut bantuan kemanusiaan kemarin (Sabtu 20/12) tiba di pelabuhan Gaza. Kantor Berita Fars mengutip pusat informasi Palestina melaporkan, Ketua Perjuangan Rakyat anti blokade di Gaza, Jamal Khudri mengatakan, ini adalah kapal pertama dari Qatar yang mengangkut bantuan untuk Gaza dan membawa misi pencabutan blokade di wilayah ini.

Ia menilai kapal dari Qatar ini merupakan awal dari sejumlah kapal dari negara Arab lainnya yang mengangkut bantuan kemanusiaan dan menyuarakan dukungan mereka terhadap bangsa Palestina.

Sementara itu, Perdana Menteri Palestina pilihan rakyat, Ismail Haniyyah menyambut baik tibanya kapal ke lima yang mengangkut aktivis perdamaian ke Jalur Gaza.

Kantor Berita Xinhua melaporkan, Haniyyah kemarin seraya menyambut baik tibanya kapal tersebut juga menegaskan bahwa dengan berlanjutnya berbagai upaya internasional maka blokade di Gaza secepatnya dapat diakhiri.

Di pihak lain, Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Ban Ki-moon mengutuk aksi brutal Rezim Zionis Israel di Jalur Gaza dan menuntut pencabutan secepatnya blokade di wilayah Gaza.

Fars mengutip AFP melaporkan, kantor Sekjen PBB kemarin dalam statemennya menyatakan, Ban Ki-moon mengkhawatirkan meningkatnya tindakan brutal serdadu Israel di Gaza. Ia juga menyatakan kekhawatirannya terhadap aksi bungkam sejumlah negara termasuk Mesir terkait kondisi Palestina. [irb/www.hidayatullah.com]

Bila Aku Jatuh Cinta





Allahu Rabbi aku minta izin
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang
Hingga membuat lalai akan adanya Engkau

Allahu Rabbi
Aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh

Allahu Rabbi
Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan
kasih-Mu
dan membuatku semakin mengagumi-Mu

Allahu Rabbi
Bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukanlah kami
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu

Allahu Rabbi
Pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku
Anugerahkanlah aku cinta-Mu...
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu

Amin !

Yuk bertafakur...!



KODOK

Di sebuah tempat di tepian hutan, seorang santri tengah menyiapkan tempat untuk salat malam. Ia sapu debu dan dedaunan kering yang tercecer di sekitar ruangan salat. Sesaat kemudian, sajadah pun terhampar mengarah kiblat. Hujan yang mulai reda menambah keheningan malam.

"Bismillah," suara sang santri mengawali salat. Tapi, "Kung...kung...kung!" Suara nyaring bersahut-sahutan seperti mengoyak kekhusyukan si santri. Ia pun menoleh ke arah jendela. "Ah, suara kodok itu lagi!" ucapnya membatin.

Sudah beberapa kali ia ingin memulai salat malam, selalu saja suara kodok meng-kungkung bersahut-sahutan. Tentu saja, itu sangat mengganggu. Masak, salat malam yang mestinya begitu khusyuk, yang tertangkap selalu wajah kodok. Mata yang bulat, leher dan kepala menyatu dan meruncing di mulut, serta gelembung di bagian leher yang menghasilkan nada begitu tinggi: kung!

"Astaghfirullah! Gimana bisa khusyuk," ucap sang santri sambil membuka jendela kamarnya. Ia menjulurkan kepalanya keluar jendela sambil menatap tajam ke arah genangan air persis di samping jendela. Tapi, beberapa kodok tetap saja berteriak-teriak. Mereka seperti tak peduli dengan sindiran 'halus' si santri.

Hingga akhirnya, "Diaaaam!!!" Si santri berteriak keras. Lebih keras dari teriakan kodok. Benar saja. Teriakan santri membuat kodok tak lagi bersuara. Mereka diam. Mungkin, kodok-kodok tersadar kalau mereka sedang tidak disukai. Bahkan mungkin, terancam. "Nah, begitu lebih baik," ucap si santri sambil menutup jendela.

Ia pun kembali mengkhusyukkan hatinya tertuju hanya pada salat. Kuhadapkan wajahku hanya kepada Allah, Pencipta langit dan bumi. Tapi, "Kung...kung...kung!" Kodok-kodok itu kembali berteriak bersahut-sahutan. Spontan, sang santri kembali menghentikan salatnya.

Kali ini, ia tidak segera beranjak ke arah jendela. Ia cuma menatap jendela yang tertutup rapat. Sang santri seperti menekuri sesuatu. Lama..., ia tidak melakukan apa pun kecuali terpekur dalam diamnya.

"Astaghfirullah," suara sang santri kemudian. "Kenapa kuanggap teriakan kodok-kodok itu sebagai gangguan. Boleh jadi, mereka sedang bernyanyi mengiringi malam yang sejuk ini. Atau bahkan, kodok-kodok itu pun sedang bertasbih seperti tasbihku dalam salat malam.

Astaghfirullah," ucap sang santri sambil menarik nafas dalam. Dan, ia pun memulai salatnya dengan begitu khusyuk. Khusyuuuk...sekali. Begitu pun dengan kodok-kodok: "Kung...kung...kung!"

***

Kadang, karena ego diri, sudut pandang jatuh tidak pas pada posisinya. Biarkan yang lain bersuara beda. Karena boleh jadi, itulah tasbih mereka. (mnuh)

Perpaduan Pendidikan Islam dan Sains

Indonesia merupakan negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia. Jumlah yang begitu besar menjadikan sebuah keunggulan sekaligus masalah.

Keunggulan dapat diraih ketika, umat islam mampu menjadi frontier atau ujung tombak pembangunan negara dan perwujudan kemakmuran seluruh rakyat yang berlandaskan nilai-nilai keislaman

. Sedangkan jumlah yang begitu besar juga bisa menjadi masalah, ketika umat islam tidak mampu mempraktekkan nilai-nilai keislaman, dan tidak mampu menunjukkan kualitasnya sebagai seorang muslim untuk mewujudkan kemakmuaran yang sesuai dengan tujuan penciptaan agar menjadi khalifah utusan Allah di bumi ini. Kenyataan sekarang yang terjadi adalah umat islam belum banyak berperan dalam menyelesaikan problem umat maupun bangsa.

Berbicara tentang sumber daya manusia, umat islam harusnya dapat memberikan konstribusi yang besar linier sebanding dengan jumlahnya. Akan tetapi, dengan kuantitas yang besar, ternyata belum sebanding dengan kualitasnya. Jadi sebenarnya, ada yang salah dengan sistem pendidikan yang dimiliki dan dipraktekkan oleh umat islam saat ini.

Mengapa demikian?. Karena sistem pendidikan yang erat dengan penyaluran ilmu akan mempengaruhi pola pikir, dan pikiran akan menentukan perilaku atau perbuatan. Jika sistem pendidikan salah, bisa jadi kebaikan ilmu akan lenyap. Bila dianalisis lebih jeli selama ini, khususnya sistem pendidikan islam seakan-akan terkotak-kotak antara urusan duniawi dengan urusan ukhrowi. Ada pemisahan antara keduanya.

Sehingga dari paradigma yang salah itu, menyebabkan umat islam belum mau ikut andil dan berpasrtisipasi banyak dalam agenda-agenda yang tidak ada hubungannya dengan agama. Sebagai permisalan, tentang sains. Sering kali umat islam fobia dan merasa sains bukan urusan agama. Jadi ada pemisahan antara urusan agama yang berorientasi akhirat dengan sains yang dianggap hanya berorientasi dunia saja.

Sejarah telah mencatat, pada awal abad VIII umat islam telah menorehkan tinta emas kemajuan iptek jauh sebelum terjadinya revolusi Industri yang diagung-agungkan bangsa Eropa . Kala itu, Ilmuwan-ilmuwan islam dapat meletakkan dasar kemajuan iptek yang tentu saja atas dasar agama.

Diantara ilmuwan seperti Abu Bakr Muhammad bin Zakariya ar-Razi (Razes [864-930 M]) yang dikenal sebagai ‘dokter Muslim terbesar', atau pakar kedokteran Abu Ali Al-Hussain Ibn Abdallah Ibn Sina (Avicenna [981-1037 M]) yang hasil pemikirannya The Canon of Medicine (Al-Qanun fi At Tibb) menjadi rujukan utama ilmu kedokteran di eropa. Al Kawarijmi Jabir Ibnu Hayyan yang meninggal tahun 803 M disebut-sebut sebagai Bapak Kimia. Algoritma yang kita kenal dalam pelajaran matematik itu berasal dari nama seorang ahli matematik Muslim bernama Muhammad bin Musa Al-Khwarizmi (770-840 M).

Ilmuwan islam telah diakui menjadi ”jembatan” yang menghubungkan Pra-revolusi dengan kemajuan eropa melalui revolusi industri yang sempat diklaim merubah dunia. Lantas apa yang menyebabkan Islam dapat bersinar kala itu?. Alasannya adalah peran islam dalam mengembangkan iptek sangatlah luar biasa.

Selain ilmuwan-ilmuwan yang bekerja keras, ditambah pemerintahan yang mendukung dengan rela menyewa penerjemah-penerjemah untuk menenjemahkan warisan-warisan ilmuan kuno Yunani. Sehingga nampak bahwa islam tidak hanya berorientasi pada agama, tetapi juga turut mengembangkan iptek yang sebelumnya dianggap berorientasi pada dunia.

Kondisi sekarang, memang bangsa barat khususnya Eropa dan Amerika sedang berada pada posisi roda diatas, mereka memegang peran yang siknifikan dalam menguasai dunia. Hal tersebut sesuai dengan Sunatullah yang menyebutkan bahwa pergiliran kekuasaan di antara manusia adalah sebuah kepastian.

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran) …” Namun pergilirian ini terjadi, selain atas izin Allah, juga bergulir sesuai dengan sunatullah yang lain yaitu usaha keras bangsa Eropa dan Amerika dalam mengusai dunia, salah satu jalan adalah penguasaan sains.

Oleh karena itu umat islam harus mengusahakan agar roda itu terus berputar hingga suatu saat nanti giliran umat islam berada pada posisi diatas dengan cara memadukan islam dan sains melalui sistem pendidikan. Sehingga Umat islam dapat menggenggam dunia dengan sistem yang lebih baik dari sekarang.

Dan perlu dingat bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, bila kaum itu yang merubah keadaannya sendiri.

IBU AKU RINDU....!

Aku masih ingat, waktu itu saat aku masih di kampung kelahiranku, aku pulang sekolah dengan wajah sedih karena abis dapat nilai 4. Sudah harap-harap cemas takut dimarahi, dan sekaligus berusaha menyembunyikan kertas ulangan itu. Tapi begitu masuk rumah, kulihat Ibu duduk di tikar pandan sedang beres-beres pakaian, dimasukkan dalam tas. Bapak duduk tak jauh dari Ibu, sambil merokok memperhatikan Ibu. Melihat aku datang, Ibu sejenak berhenti membereskan pakaian.

Kemudian ibu menyuruhku ganti pakaian dan makan. Aku turuti perintah ibu. Ganti baju dan makan sayur tempe yang sudah biasa setiap hari kami santap. Telur dan daging ayam mungkin seminggu sekali saja hadir di meja makan kami. Itu pun jika ada lebihan dari uang gaji bapakku yang cuma buruh bangunan.

Aku pikir tadinya aku akan diajak serta pergi, tapi ibu bilang dia akan ke Jakarta untuk nyari uang. Sementara aku dan bapak tinggal di rumah ini. Alasannya, jika semua pergi ke Jakarta, siapa yang menunggu rumah ini.

Bapak hanya diam saja, waktu itu aku hanya bisa menangis dan menangis. Yang aku tahu, aku akan ditinggal ibu pergi, dan aku tidak diajak serta. Seperti kebiasaan, kalo aku tidak diajak pergi, pasti aku nangis. Bapak berusaha mendiamkan aku dengan mengajakku naik sepeda untanya, ke pinggir sawah-sawah. Sampe ke kebun tebu, bapak mengambilkan sebatang tebu, lalu mengupasnya, dipotongi kecil-kecil, baru diberikan padaku. Aku senang dan bisa melupakan tangisku.

Besoknya ibu jadi pergi, aku masih menangis ketika ditinggalkan, kulihat Bapak juga menangis. Kami mengantar Ibu sampe di terminal bis, karena di sana ada teman Ibu yang juga akan pergi ke Jakarta. Hari itu aku melihat Ibu dan Bapak menangis bersama, menangis yang tidak seperti biasanya kulihat.

Hari-hari berikutnya, bapak kelihatan muram dan sedih. Kutunggu-tunggu, Ibu tidak datang juga. Tiap kali kutanyakan pada bapak, katanya besok, minggu depan atau bulan depan Ibu baru akan pulang. Banyak tetangga dan teman-temanku yang bilang, kalo ibuku pergi ke negeri Arab, jadi TKW.

Aku, ketika itu, tidak tahu apa itu TKW. Kata bapak, nanti kalo ibu pulang pasti akan bawa uang banyak. Dan kami tidak akan miskin lagi. Tiga bulan kemudian ada surat dari Ibuku, bukan main senangnya aku dan Bapak. Ibu bilang, sekarang berada di Arab Saudi, juragannya baik, dan sebentar lagi Ibu akan mengirim uang untuk kami. Ternyata Ibuku jadi pembantu, di negeri yang jauh itu. Benar saja, belum setahun ibuku pergi, ibu sudah mengirimkan uang. Aku tidak tahu berapa, tapi yang jelas waktu itu bapak membelikan aku seragam sekolah yang baru, katanya uang kiriman Ibu. Aku senang sekali.

Bapak pun pergi

Hingga akhirnya, seiring berjalannya waktu, aku mulai terbiasa hidup tanpa kehadiran Ibu. Aku mulai belajar memasak dan membersihkan rumah. Waktu itu aku masih kelas 4 SD, tapi aku sudah bisa masak nasi dan sayur asem, dengan dibantu bapak. Tapi ibuku tidak pernah kirim kabar lagi. Jangankan uang, surat pun tidak pernah. Sedangkan bapak, masih tetap jadi buruh bangunan, kadang kerja kadang nganggur di rumah. Sampe kemudian setelah hampir dua tahun sejak kepergian Ibu, bapak memutuskan untuk mencari kerja di luar pulau, ke Sumatera. Sedangkan aku dititipkan di rumah bibiku, adiknya bapak.

Terpaksa aku pindah sekolah, meskipun desa bibiku tidak jauh dari rumahku yang dulu. Di rumah bibi, aku diterima dengan baik, dan aku juga terbiasa dengan pekerjaan rumah sehingga tidak kaku lagi untuk membantu pekerjaan di rumah bibi. Keluarga bibiku juga tidak beda jauh dengan keadaan keluarga kami. Sedangkan ibu, tidak lagi kudengar beritanya. Bahkan sering aku dengar omongan orang-orang, bahwa ibuku sudah menikah lagi dengan orang Arab dan tinggal menetap di sana. Ibuuuu…!

Bapak yang bekerja di Sumatera sering mengirimkan uang untuk biaya sekolah, sampai aku bisa melanjutkan ke SMP. Ketika kelas 2 SMP, aku mendapat berita buruk. Bapakku mendapat musibah di Sumatera, beliau terjatuh dari bangunan setinggi lima meter.Sehingga tulang belakangnya patah. Oleh pihak kontraktor, bapak dibawa ke rumah sakit, tapi tidak sembuh juga, bahkan akhirnya Bapak lumpuh total, kemudian dipulangkan ke Jawa, ke rumah bibiku lagi.

Sedih hatiku melihat keadaan bapak. Beliau hanya bisa tiduran, untuk mandi, dan ke kamar kecil, aku yang membantunya, kadang juga bibiku. Badannya semakin kurus. Kurang lebih setahun kemudian, bapak meninggal dunia. Rasanya hidupku benar-benar sudah hancur. Tapi dengan bantuan bibiku, aku bisa lulus SMP. Untuk melanjutkan ke SMU rasanya tidak mungkin, bagaimana pun aku tidak bisa merepotkan bibiku terus.

Jadi pembantu

Suatu hari aku putuskan untuk jadi TKW ke luar negeri. Entah mengapa aku bisa nekat, sedikit niat terselip, aku ingin mencari Ibu. Tapi rupanya, niat saja tidak cukup, aku gagal ikut tes, setelah masuk di penampungan TKW di Jakarta. Untuk kembali pulang ke kampung, rasanya tidak mungkin. Aku tidak ingin jadi beban bibiku lagi.

Akhirnya, aku putuskan untuk mencari pekerjaan di Jakarta. Lewat seorang kenalan di penampungan, akhirnya aku dimasukkan ke agen pembantu rumah tangga. Dan di sini aku diambil seorang dokter wanita, menjadi pembantu di rumahnya. Di sini, di rumah ini ada Ibu dokter, suaminya seorang dosen, anaknya yang pertama perempuan namanya Mbak Happy usianya sebaya dengan aku, dan yang kedua namanya Mas Rico masih SMP kelas 2.

Di rumah ini, aku cukup bahagia. Karena selain pekerjaannya nggak terlalu berat. Mereka baik padaku. Hampir setiap hari aku diajari ngaji. Alhamdulillah, aku sudah bisa baca Quran dan juga rajin sholat. Mbak Happy juga selalu ngingetin aku kalo kerudung yang kukenakan belum rapi.

Ya Allah, terima kasih, biarpun di sini aku hanya pembantu, tapi mereka sangat baik padaku. Mereka memberi kesempatan padaku untuk belajar ngaji dan mengajari aku sholat, yang selama ini tidak pernah aku dapatkan dari orang lain. Mengajariku mengadu padaMu. Lindungi dan kasihilah mereka…karena mereka pengganti Ibu bagiku.

Meski demikian, aku tak bisa melupakan ibu yang sampai sekarang belum tahu ada di mana ia. Aku kadang-kadang melamun. Memimpikan bertemu dengan ibu. Kalo aku inget rumah di kampung, rasanya masih membekas saat-saat akan berpisah dengan ibu. Rupanya, itulah terakhir kali aku bisa melihat wajah ibu. Aku masih berharap suatu saat bertemu dengannya. Sangat berharap…. Ibuu…aku rindu…!