Minggu, 08 Februari 2009

Din Syamsuddin : AS Harus Tinggalkan Paradigma Lama




Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Din Syamsuddin menjadi salah seorang tamu internasional yang hadir pada International Prayer Breakfast bersama Presiden Obama dan Wakil Presiden Biden di Washington, DC 5 Februari pagi. Acara tahunan rutin ini dihadiri 1000-an tokoh AS dari berbagai kalangan dan sejumlah tokoh dunia, baik pemerintahan, agama, politisi dan cendekiawan. Dari Indonesia selain Din Syamsuddin hadir juga Wapres Jusuf Kalla.

Pada acara tersebut, sambil makan pagi bersama dan berdoa bagi perdamaian dunia, juga diisi sambutan oleh mantan PM Inggris Tony Blair dan Presiden Obama sendiri. Keduanya menekankan pentingnya upaya bersama mewujudkan perdamaian dunia dan pentingnya peran agama-agama. Baik Obama maupun Blair mengutip ayat-ayat
Taurat, Injil dan al-Qur'an tentang kasih sayang.

Walaupun tidak ada tanya jawab, namun kedua sambutan tadi cukup mengisyaratkan visi baru kepemimpinan dunia bagi adanya tata kehidupan dunia baru yang damai, sejahtera, berkeadilan dan berkeadaban. Din Syamsuddin menilai pernyataan Presiden Obamacukup menggembirakan.

“Walau kita skeptis terhadap realisasi janji semacam itu, tapi dengan diucapkan berkali-kali kita boleh sedikit. optimis bahwa dia berbeda dengan pendahulunya, Bush," ujar Din.

Din berharap AS mengubah pendekatannya terhadap dunia luar yaitu dengan meninggalkan standar ganda dan penggunaan hard power dalam menyelesaikan masalah dunia Menurutnya, inilah momentum bagi AS untuk mengubah diri dalam memandang dunia lain. "Kalau AS masih menggunakan paradigma lama, ia akan diabaikan oleh negara-negara lain, tapi kalau berubah maka AS akan dapat menjadi motor perubahan dunia," tandasnya.

Din Syamsuddin yang sebelumnya berpidato di World Summit on Peace di NY, mengajak Dunia Islam untuk memberi kesempatan kepada Obama untuk merealisasikan janji-janjinya, sambil melihat apakah dia jujur pada dirinya sendiri. (novel/ds) www.eramuslim.com

Pengaku Nabi Baru di Aljazair Difatwa Mati

Hidayatullah.com--Seorang ulama Aljazair, Syaikh Abu Bakar Suhayl, merilis fatwa yang menyatakan "halal darahnya" atas seorang yang mengaku sebagai Nabi Baru yang mendapatkan wahyu suci dari Allah sekaligus diperintahkan untuk menyebarkan agama baru tersebut.

Harian al-Afaq (7/2) mengabarkan, sejak dua minggu kemarin, seorang lelaki berusia 50 tahunan yang berasal dari Mantiqah Muhammadiyyah di Barat Aljazair mengaku sebagai Nabi Baru. Ia juga mendapatkan wahyu langsung dari Allah dan diperintahkan untuk menyebarkan syari'at baru.

Sang Nabi baru tersebut menyatakan jika Shalat Jum'at, Shalat Isya', Shalat Fajar, dan dua Shalat Id adalah makruh hukumnya, dan bukan wajib. Ia juga menyatakan jika Puasa Ramadhan kini diwajibkan setiap bulan Desember, dan tidak lagi menjadi kewajiban, melainkan pilihan: jika ingin berpuasa, puasalah, jika tidak, makanlah.

Selain itu, sang Nabi baru tersebut juga menyesatkan kalangan Ahlussunnah. Menurutnya, madzhab Ahlussunnah adalah madzhab Bid'ah dan merusak umat. Ia menyerukan kepada para ulama untuk meninggalkan madzhab tersebut.

"Ahlussunnah telah mengakibatkan umat Muslim terjerat dalam serentetan masalah yang akut," ungkapnya.

Umat Muslim yang tinggal bilangan al-Manthiqah al-Muhammadiyyah telah melayangkan surat pengaduan kepada Badan Wakaf dan keagamaan Aljazair. Mereka meminta pemerintah untuk menindak tegas keberadaan "Nabi Baru" yang meresahkan umat ini. [atj/afq/www.hidayatullah.com]

ANTARA AKU

Pada saat bumi tercipta dalam rahmat-Nya, aku terbiasa menunggu hal yang membuat hati dan pikiranku senang,,,, rasa senang akan berhasilnya nafsu duniaku terpenuhi…

Coba katakan pada diri sendiri bahwa diri ini tlah lelah menunggu… aku harus berjuang bersama teman-teman yang setia terhadap dien-Nya……….

Dengan perasaan yang membuat mati hati dan pikiran busuk, tercium bau busuk hingga ke negeri sebrang, andai semua tlah pergi dan tinggal diri ini yang lelah dalam kebusukan, katakan pada diri ini wahai diri yang tersenyum saat sahabat berhasil menempuh hidup yang bahagia.

Anjing maut yang berlari menuju kekafiran insan yang telah lelah menunggu..

“Perjuangan ini belum berakhir, namun perjuangan ini baru aku mulai”

Sabtu, 07 Februari 2009

Perempuan Berkalung Surban' Menyesatkan



'Perempuan Berkalung Surban' Menyesatkan
Mereka yang terlibat dalam film itu sangat terlihat sekali ketidakpahaman mereka terhadap sejarah, tradisi, karakteristik dan jiwa pesantren., Film ''Perempuan Berkalung Surban'' telah menyesatkan.Mereka menggambarkan persepsi yang salah, padahal keadaan yang sebenarnya tidak seperti itu
Film ''Perempuan Berkalung Sorban'' besutan Sutradara Hanung Bramantyo yang sedang diputar di bioskop dinilai banyak mengandung muatan agama yang menyesatkan. Film yang diadopsi dari novel karya Abidah Al Khalieqy itu juga dianggap telah melecehkan Alquran dan Hadits, serta telah menjelek-jelekan pesantren.
Salah satu pesan yang dianggap menyesatkan dalam film itu adalah dialog antara Kiai Hanan, ayah Anissa (Joshua Pandelaky) dengan Annisa (Revalina S Temat). Dalam dialog itu, Kiai Hanan berkata, "Jelas Alquran dan Hadits mengharamkan perempuan keluar rumah sendiri tanpa muhrim, meski untuk belajar."
''Yang membuat saya kaget, dialog itu dihadirkan secara berulang dengan adegan yang berbeda,'' cetus staf pengajar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Fitriyani Aminudin kepada Republika, Ahad (1/2). Padahal, kata Fitriyani, tak ada satupun ayat dalam Alquran dan Hadits yang melarang perempuan untuk keluar rumah.
Ia menegaskan, penggunaan kata ''berdasarkan Alquran dan Hadits'' dalam film itu sebagai bentuk pelecehan kitab suci yang amat menyakitkan. Reaksi keras terhadap Film ''Perempuan Berkalung Sorban'' juga dilontarkan Imam Besar Masjid Istiqlal, KH Ali Mustafa Yakub. Pakar ilmu Hadits itu menyatakan, tak ada satu pun ayat dalam Alquran dan Hadits yang mengharamkan perempuan untuk keluar rumah.
"Yang ada justru hadits yang sebaliknya,'' tegas Kiai Ali Mustafa. ''Janganlah kamu melarang perempuan-perempuanmu untuk ke masjid (menimba ilmu),'' ucapnya mengutip sebuah hadits. Anggota Komisi Fatwa MUI itu menilai, Film ''Perempuan Berkalung Surban'' telah menyesatkan. "Mereka menggambarkan persepsi yang salah, padahal keadaan yang sebenarnya tidak seperti itu. Itu sangat tidak benar. Menurut saya film itu menyesatkan."
Kiai Ali juga menyoroti adegan Anissa menunggang kuda. ''Dalam film itu digambarkan bahwa perempuan dilarang menunggang kuda. Padahal pada zaman Nabi banyak perempuan yang sudah menunggang kuda,'' tuturnya. Menurut dia, film tersebut telah menyampaikan ajaran agama yang salah. ''Sebaiknya tidak usah ditonton."
Selain itu, Fitriyani juga memaparkan banyaknya adegan yang ganjil dalam film itu. Ia mengkritisi sejumlah dialog dan gambar yang mencoba membandingkan Alquran serta Hadits dengan buku Bumi Manusia karya Pramudya Ananta Tur. "Siapapun yang menontonnya, dalam film ini terdapat kesan kuat yang menggambarkan kebodohan kaum santri mengharamkan buku-buku Komunis,'' cetus Fitriyani.
Fitriyani menilai film itu mengedepankan pesan utama kebebasan yang mencoba membandingkannya dengan pesantren. "Ada sebuah kesalahan fatal, karena mereka (pembuat film) tak mendalami lebih dahulu karakter dan tradisi pendidikan pesantren,'' tegasnya. Ia menilai mereka yang terlibat dalam film itu sangat terlihat sekali ketidakpahaman mereka terhadap sejarah, tradisi, karakteristik dan jiwa pesantren.
''Ini merupakan pelecehan dan penghinaan terhadap pesantren," kata wanita yang juga pernah mondok di salah satu pesantren Jawa Timur itu. Menanggapi reaksi keras dari kalangan umat Islam itu, Sutradara Film ''Perempuan Berkalung Sorban'', Hanung Bramantyo membantah adanya dialog haramnya perempuan keluar rumah yang didasarkan pada Alquran dan Hadits. "Tak ada dialog seperti itu, itu hanya pendapat sang Kiai yang notabene pemilik pesantren bukan berdasarkan Alquran dan Hadits,'' kilahnya.
Hanung menambahkan, ia mengadopsi keadaan pesantren dan kegiatannya dari novel karya Abidah Al Khalieqy yang merupakan hasil pengamatan Abidah.