Minggu, 08 Februari 2009

Pengaku Nabi Baru di Aljazair Difatwa Mati

Hidayatullah.com--Seorang ulama Aljazair, Syaikh Abu Bakar Suhayl, merilis fatwa yang menyatakan "halal darahnya" atas seorang yang mengaku sebagai Nabi Baru yang mendapatkan wahyu suci dari Allah sekaligus diperintahkan untuk menyebarkan agama baru tersebut.

Harian al-Afaq (7/2) mengabarkan, sejak dua minggu kemarin, seorang lelaki berusia 50 tahunan yang berasal dari Mantiqah Muhammadiyyah di Barat Aljazair mengaku sebagai Nabi Baru. Ia juga mendapatkan wahyu langsung dari Allah dan diperintahkan untuk menyebarkan syari'at baru.

Sang Nabi baru tersebut menyatakan jika Shalat Jum'at, Shalat Isya', Shalat Fajar, dan dua Shalat Id adalah makruh hukumnya, dan bukan wajib. Ia juga menyatakan jika Puasa Ramadhan kini diwajibkan setiap bulan Desember, dan tidak lagi menjadi kewajiban, melainkan pilihan: jika ingin berpuasa, puasalah, jika tidak, makanlah.

Selain itu, sang Nabi baru tersebut juga menyesatkan kalangan Ahlussunnah. Menurutnya, madzhab Ahlussunnah adalah madzhab Bid'ah dan merusak umat. Ia menyerukan kepada para ulama untuk meninggalkan madzhab tersebut.

"Ahlussunnah telah mengakibatkan umat Muslim terjerat dalam serentetan masalah yang akut," ungkapnya.

Umat Muslim yang tinggal bilangan al-Manthiqah al-Muhammadiyyah telah melayangkan surat pengaduan kepada Badan Wakaf dan keagamaan Aljazair. Mereka meminta pemerintah untuk menindak tegas keberadaan "Nabi Baru" yang meresahkan umat ini. [atj/afq/www.hidayatullah.com]

1 komentar:

  1. MENDUSTAI ALLAH (II)
    Assalamu’alaikum wr. wb.

    Saudaraku…,
    Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kita untuk berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kita ketahui.

    ”Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”. (QS. Al Baqarah. 169).

    Saudaraku…,
    Betapa banyak orang-orang yang karena bujuk rayu syaitan, maka mereka menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu mengatakannya: "Ini dari Allah", dengan maksud untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan. Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang-orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya?

    “Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan”. (QS. Al Baqarah. 79).

    “Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan”. (QS. Al An’aam. 21).

    “Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja." Katakanlah: "Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?". (QS. Al Baqarah. 80).

    Saudaraku…,
    Betapa dari waktu ke waktu, silih berganti orang-orang yang mengaku telah mendapat wahyu, padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya. Sungguh, betapa dahsyatnya sekiranya kita melihat di waktu orang-orang yang zalim itu berada dalam tekanan-tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya sambil berkata: "Keluarkanlah nyawamu. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah perkataan yang tidak benar dan karena kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya!” Na’udzubillahi mindzalika!

    “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: "Telah diwahyukan kepada saya", padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: "Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah". Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu". Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya”. (QS. Al An’aam. 93). Na’udzubillahi mindzalika!

    Saudaraku…,
    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”. (QS. An Nisaa’. 48). Semoga bermanfaat! {Tulisan ini diambilkan dari: www.imronkuswandi.blogspot.com Maaf, jika kurang berkenan}.

    BalasHapus