Pada saat bumi tercipta dalam rahmat-Nya, aku terbiasa menunggu hal yang membuat hati dan pikiranku senang,,,, rasa senang akan berhasilnya nafsu duniaku terpenuhi…
Coba katakan pada diri sendiri bahwa diri ini tlah lelah menunggu… aku harus berjuang bersama teman-teman yang setia terhadap dien-Nya……….
Dengan perasaan yang membuat mati hati dan pikiran busuk, tercium bau busuk hingga ke negeri sebrang, andai semua tlah pergi dan tinggal diri ini yang lelah dalam kebusukan, katakan pada diri ini wahai diri yang tersenyum saat sahabat berhasil menempuh hidup yang bahagia.
Anjing maut yang berlari menuju kekafiran insan yang telah lelah menunggu..
“Perjuangan ini belum berakhir, namun perjuangan ini baru aku mulai”
yang terdalam adalah peristiwa yang tak bisa di ulang kembali, yang bisa terpancar setelah bumi berpijak dalam kedalaman semesta….
Anturan yang terpaut oleh masa lama, cukup terasa berat dalam berjalan dan berlari….. hidup yang sulit dan mencekam, tak sedamai hati yang berlabuh, dan terdengar hantu yang tertawa saat ku kenang semua yang tlah berlalu….
Jika yang tercipta adalah bumi yang hidup kembali setelah matinya, saat-saat hati mencari setitik rahmatNya dalam kasih dan pelukan terhangat.
Wahai diri yang tlah lama terjebak dalam mati, yang tlah lama terpanggil oleh Ilahi tak bisakah kau kembali mengukir semua itu dengan baik,dengan segala yang kau punya………………………………!
Pada suatu hari, tepatnya hari minggu 09 februari 2009. pagi yang indah namun
Kamis, 12 Maret 2009
Vatikan: Barat Harus Melihat Sistem Keuangan Islam
Vatikan mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan. Vatikan bilang, perbankan dunia seharusnya melongok pada peraturan keuangan Islam untuk meningkatkan kembali kepercayaan para nasabahnya di tengah krisis global seperti sekarang ini.
“Prinsip yang beretika yang diusung perbankan Islam dapat mendekatkan pihak bank dengan para nasabahnya. Selain itu, spirit kejujuran harus tecermin dalam setiap jasa layanan yang diberikan,” demikian seperti yang tertulis dalam artikel harian Vatikan Osservatore Romano, beberapa waktu yang lalu.
Loretta Napoleoni dan Claudia Segre, Abaxbank Spa Fixed Income Strategist, dalam artikel tersebut menulis, perbankan barat dapat menggunakan sejumlah alat, seperti obligasi syariah yang lebih dikenal dengan sukuk sebagai jaminan (collateral). “Sukuk juga dapat digunakan untuk mendanai industri otomotif atau pekan Olimpiade di London nanti,” tulis mereka.
Sebelumnya, pada 7 Oktober lalu, Paus Benedict XVI berpidato, konklusi dari hancurnya pasar finansial saat ini akibat dampak buruk kondisi perekonomian global dalam dua dekade terakhir ini.
Sementara itu, Editor Osservatore Giovanni Maria Vian mengatakan, “Agama yang hebat selalu memiliki atensi yang penuh terhadap dimensi perekonomian masyarakatnya.” (mj/www.suara-islam.com)
“Prinsip yang beretika yang diusung perbankan Islam dapat mendekatkan pihak bank dengan para nasabahnya. Selain itu, spirit kejujuran harus tecermin dalam setiap jasa layanan yang diberikan,” demikian seperti yang tertulis dalam artikel harian Vatikan Osservatore Romano, beberapa waktu yang lalu.
Loretta Napoleoni dan Claudia Segre, Abaxbank Spa Fixed Income Strategist, dalam artikel tersebut menulis, perbankan barat dapat menggunakan sejumlah alat, seperti obligasi syariah yang lebih dikenal dengan sukuk sebagai jaminan (collateral). “Sukuk juga dapat digunakan untuk mendanai industri otomotif atau pekan Olimpiade di London nanti,” tulis mereka.
Sebelumnya, pada 7 Oktober lalu, Paus Benedict XVI berpidato, konklusi dari hancurnya pasar finansial saat ini akibat dampak buruk kondisi perekonomian global dalam dua dekade terakhir ini.
Sementara itu, Editor Osservatore Giovanni Maria Vian mengatakan, “Agama yang hebat selalu memiliki atensi yang penuh terhadap dimensi perekonomian masyarakatnya.” (mj/www.suara-islam.com)
Buku Amrozi Akan Diselidiki Jaksa Intelegen
Buku Amrozi Akan Diselidiki Jaksa Intelegen PDF Cetak E-mail
Friday, 13 March 2009
ImageBuku berjudul 'Goresan Pena Trio Mujahid' karya tiga terpidana mati bom Bali, Amrozi, Imam Samudra, dan Ali Ghufron alias Mukhlas beredar. Ditanya soal buku itu, Jaksa Agung, Hendarman Supanji mengaku belum tahu.
"Saya belum lihat, akan saya cek kalau sudah sampai kejaksaan," kata Hendarman di Gedung Kejaksaan Agung, Jalan Hasanuddin, Jakarta, Jumat 13 Maret 2009. Hendarman menegaskan, terhadap buku tersebut kejaksaan tak tinggal diam.
"Itu harus dibahas dalam satu forum. Nanti, jaksa agung muda Intelijen akan membuat suatu forum," kata Hendarman. Dia melanjutkan, tim dari Sub Direktorat Mass Media yang ada di bawah JAM Intelijen akan meneliti buku tersebut. "Di sanalah digodoknya," kata Hendarman.
Trilogi "Goresan Pena Trio Mujahid" terbitan Arrahmah Media diiklankan di laman arrahmah dengan harga Rp 75 ribu untuk tiga buku.
Masing-masing trio bom Bali menulis satu buku. Buku Imam Samudra bersampul merah berjudul 'Sekuntum Rosela Pelipur Lara', buku Amrozi bersampul hijau dengan judul 'Senyum Terakhir Seorang Mujahid', dan buku Mukhlas berjudul 'Mimpi Suci Dibalik Jeruji'.
Beredarnya buku tersebut belum ramai dibahas di Indonesia, namun jadi perbincangan di luar negeri, terutama Australia-yang 88 warganya menjadi korban tragedi Bom Bali.
Amrozi Cs dieksekusi mati pada Minggu, 9 November 2008, pukul 00.15 WIB. Mereka dieksekusi di Nusakambangan.
Ketiga terpidana divonis mati setelah dinyatakan bersalah merencanakan dan melakukan aksi teror meledakkan dua bom di kawasan Legian, Kuta, Bali, pada 12 Oktober 2002. Bom pertama meledak di Paddy’s Irish Bar sedangkan bom kedua meletup di dekat Sari Club. Akibatnya, 202 orang tak berdosa tewas dan 305 lainnya luka-luka, termasuk sejumlah warga Indonesia dan umat Muslim. Bom ketiga meledak di dekat kantor Konsulat Amerika Serikat di Denpasar, untungnya tak ada jiwa melayang di sana. (mj/www.suara-islam.com)
Friday, 13 March 2009
ImageBuku berjudul 'Goresan Pena Trio Mujahid' karya tiga terpidana mati bom Bali, Amrozi, Imam Samudra, dan Ali Ghufron alias Mukhlas beredar. Ditanya soal buku itu, Jaksa Agung, Hendarman Supanji mengaku belum tahu.
"Saya belum lihat, akan saya cek kalau sudah sampai kejaksaan," kata Hendarman di Gedung Kejaksaan Agung, Jalan Hasanuddin, Jakarta, Jumat 13 Maret 2009. Hendarman menegaskan, terhadap buku tersebut kejaksaan tak tinggal diam.
"Itu harus dibahas dalam satu forum. Nanti, jaksa agung muda Intelijen akan membuat suatu forum," kata Hendarman. Dia melanjutkan, tim dari Sub Direktorat Mass Media yang ada di bawah JAM Intelijen akan meneliti buku tersebut. "Di sanalah digodoknya," kata Hendarman.
Trilogi "Goresan Pena Trio Mujahid" terbitan Arrahmah Media diiklankan di laman arrahmah dengan harga Rp 75 ribu untuk tiga buku.
Masing-masing trio bom Bali menulis satu buku. Buku Imam Samudra bersampul merah berjudul 'Sekuntum Rosela Pelipur Lara', buku Amrozi bersampul hijau dengan judul 'Senyum Terakhir Seorang Mujahid', dan buku Mukhlas berjudul 'Mimpi Suci Dibalik Jeruji'.
Beredarnya buku tersebut belum ramai dibahas di Indonesia, namun jadi perbincangan di luar negeri, terutama Australia-yang 88 warganya menjadi korban tragedi Bom Bali.
Amrozi Cs dieksekusi mati pada Minggu, 9 November 2008, pukul 00.15 WIB. Mereka dieksekusi di Nusakambangan.
Ketiga terpidana divonis mati setelah dinyatakan bersalah merencanakan dan melakukan aksi teror meledakkan dua bom di kawasan Legian, Kuta, Bali, pada 12 Oktober 2002. Bom pertama meledak di Paddy’s Irish Bar sedangkan bom kedua meletup di dekat Sari Club. Akibatnya, 202 orang tak berdosa tewas dan 305 lainnya luka-luka, termasuk sejumlah warga Indonesia dan umat Muslim. Bom ketiga meledak di dekat kantor Konsulat Amerika Serikat di Denpasar, untungnya tak ada jiwa melayang di sana. (mj/www.suara-islam.com)
Langganan:
Postingan (Atom)