Buku Amrozi Akan Diselidiki Jaksa Intelegen PDF Cetak E-mail
Friday, 13 March 2009
ImageBuku berjudul 'Goresan Pena Trio Mujahid' karya tiga terpidana mati bom Bali, Amrozi, Imam Samudra, dan Ali Ghufron alias Mukhlas beredar. Ditanya soal buku itu, Jaksa Agung, Hendarman Supanji mengaku belum tahu.
"Saya belum lihat, akan saya cek kalau sudah sampai kejaksaan," kata Hendarman di Gedung Kejaksaan Agung, Jalan Hasanuddin, Jakarta, Jumat 13 Maret 2009. Hendarman menegaskan, terhadap buku tersebut kejaksaan tak tinggal diam.
"Itu harus dibahas dalam satu forum. Nanti, jaksa agung muda Intelijen akan membuat suatu forum," kata Hendarman. Dia melanjutkan, tim dari Sub Direktorat Mass Media yang ada di bawah JAM Intelijen akan meneliti buku tersebut. "Di sanalah digodoknya," kata Hendarman.
Trilogi "Goresan Pena Trio Mujahid" terbitan Arrahmah Media diiklankan di laman arrahmah dengan harga Rp 75 ribu untuk tiga buku.
Masing-masing trio bom Bali menulis satu buku. Buku Imam Samudra bersampul merah berjudul 'Sekuntum Rosela Pelipur Lara', buku Amrozi bersampul hijau dengan judul 'Senyum Terakhir Seorang Mujahid', dan buku Mukhlas berjudul 'Mimpi Suci Dibalik Jeruji'.
Beredarnya buku tersebut belum ramai dibahas di Indonesia, namun jadi perbincangan di luar negeri, terutama Australia-yang 88 warganya menjadi korban tragedi Bom Bali.
Amrozi Cs dieksekusi mati pada Minggu, 9 November 2008, pukul 00.15 WIB. Mereka dieksekusi di Nusakambangan.
Ketiga terpidana divonis mati setelah dinyatakan bersalah merencanakan dan melakukan aksi teror meledakkan dua bom di kawasan Legian, Kuta, Bali, pada 12 Oktober 2002. Bom pertama meledak di Paddy’s Irish Bar sedangkan bom kedua meletup di dekat Sari Club. Akibatnya, 202 orang tak berdosa tewas dan 305 lainnya luka-luka, termasuk sejumlah warga Indonesia dan umat Muslim. Bom ketiga meledak di dekat kantor Konsulat Amerika Serikat di Denpasar, untungnya tak ada jiwa melayang di sana. (mj/www.suara-islam.com)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar